inikah janji terakhirmu, Cinta


Hari ini adalah awal pekan yang artinya aku harus melakukan aktivitas seperti biasa, yaitu menuntut ilmu untuk mengejar gelar sarjana Apoteker. Mungkin hari ini aku rasa hari yang biasa karena tak ada yg spesial dipagi ini.Setelah bangun,mandi, dan sarapan aku menuju garasi untuk menyiapkan mobil yg akan mengantarku ke kampus. Tiba-tiba datang seorang pria memakai pakaian rapi dan kepalanya ditutup dengan topi jaketnya. Pria itu tiba-tiba menghampiriku dengan membawakan seikat bunga mawar. Lalu dibukanya topi jaket itu dan ternyata Panji, kekasihku.
Aku sontak kaget dan hanya berkata "Panji?".
"Iya Putri :)" kata Panji dengan senyum manisnya sambil memelukku.
"Ngapain kamu pagi-pagi udah kesini?"
"Gak boleh ya? aku kan cuma mau buat surprize aja pas aniv kita yang ke 5thn ini"
"Masyaallah inikan tgl 26 Juni ya? Happy Aniversary ya sayang"
"nah mau berangkat ke kampuskan? ayo sama aku aja ya?"
"oke :)"
Dan akhirnya ku putuskan untuk berangkat bersama kekasihku, Panji. Disepanjang perjalanan, fikiranku hanya memikirkan satu pertanyaan yg mungkin jika orang sedunia tau kelakuan Panji selama ini padaku yaitu "Mengapa Panji aneh pagi ini?". Aku dan Panji udah 5thn pacaran tapi baru kali ini Panji ngelakuin hal seromantis ini pas tepat hari jadi kita.
Entah mengapa aku yang selalu disakitin dan dikhianati olehnya selalu memaafkan kelakuannya. Selama 5thn pacaran aku udah hampir 8kali diselingkuhin, tapi selalu aku maafkan. Mungkin aku terlalu lemah, hingga sahabat-sahabatku yang mendengarkan cerita tentang Panji sampai sebel dan marah padaku hingga hampir sebulan sahabat-sahabatku marah dan diam tanpa kata padaku. Ya mau gimana lagi, yang namanya cinta ya tetap aja cinta. Mungkin aku yang terlalu lemah mungkin juga Panji yang terlalu jahat.
Sesampai dikampus, kami pun langsung menuju kelas masing-masing. Hari ini aku ada kelas praktek kimia analitik dan Panji kelas kimia kuantitatif. Sebelum aku masuk ke laboratorium Panji berkata padaku “Putri, maaf ya nanti aku gak bisa anter kamu pulang aku mau rapat senat dulu. Oh iya nanti malam aku jemput ya, kita dinner”. Aku hanya menganggukan kepala yang artinya setuju.
Malam harinya, Panji datang menjemputku. Malam itu aku dandan paling cantik dari sebelumnya. Aku mengenakan gaun dress pemberian Panji padaku waktu ulang tahunku yg ke-18 tahun. Aku pun turun ke lantai bawah dan menemui Panji. Panji terkejut melihatku.
“Putri, anggun sekali kamu malam ini. Sumpah!”
“ah kamu bisa aja, Nji. Yaudah ayo kita berangkat”
sepanjang perjalanan menuju rumah makan, kita bercerita banyak tentang kejadian seharian dikampus. Sampai ditempat tujuan, sungguh tempat pilihan Panji sangat romantis. Malam itu aku bersyukur lagi kepada Tuhan bahwa orang yg bersamaku malam itu membuatku tersenyum manis. Hari pun sudah larut dan Panji mengantarku pulang.
Esok harinya kami pun bertemu lagi dikampus. Hari ini kami ada kelas praktek yang satu dimana laboratoriumnya bersamaan. Kami saling curi padang. Saat usai praktek aku bertemu dengan dua sahabatku, Ita dan Vita. Aku menghampiri mereka.
“ kamu kenapa pucat Put? Lagi sakit?” tutur Ita. “ya jelas sakit, sakit hati gara-gara kelakuan si Panji itu”. “kamu kenapa sih Vit, sirik banget sama Panji?”. “udaah ! jangan pada ribut sendiri gini sih, aku gapapa kok Ta. Aku mungkin cuma kecapekan seharian praktek” kataku. “ kamu ini gimana sih Put, disakitin bolak-balik sama Panji sama aja dibelain jangan-jangan Panji udah gak sayang sama kamu mungkin atau jangan-jangan udah bosen?*upss*”. “udah ah aku pamit pulang duluan aja ya, bye Ta bye Vit ”
sepanjang perjalanan pulang aku memikirkan perkataan Vita tadi. Apa benar Panji udah gak sayang sama aku lagi?apa iya dia bosen sama aku? Ahh gak mungkin positive thingking aja deh.
Keesokan harinya, aku kembali melakukan aktivitasku seperti biasa, yaitu ke kampus. Saking asiknya aku mengerjakan tugas dengan teman-temanku hingga aku lupa waktu sampai sore menjelang malam. Akhirnya ku putuskan untuk pulang. Aku menuju parkiran mobil. Di parkiran mobil aku melihat Panji dan aku melihat dengan jelas dia lagi berbincang dengan seorang wanita. Dan aku cermati betul wanita itu adalah Ita, yaa benar itu Ita sahabatku. Hati miris sakit seperti tergores pisau tajam. Ita dan Panji lalu masuk ke dalam mobil Panji, aku langsung menyegat mobil panji menuju jalan keluar dari parkiran. Mobil Panji seketika berhenti dan Panji keluar dari mobil. “Panjiiiii !! kenapa bener-bener kamu jahat lagi sama aku :( cukup tau aja deh” aku lari kedalam mobilku dan langsung keluar dari parkiran. Dari dalam mobil terdengar suara Panji yang teriak “Putri…ini bukan kayak yg kamu kira, Put tunggu dulu”
Sesampai dirumah langsung aku menemui ibu dan menceritakan semua pada Ibu sambil menangis. Ibu menyuruhku langsung tidur dan menenangkan diri. Ibu pasti tau betapa sakitnya hatiku. Saat itu aku benar-benar tak dapat memaafkan Panji untuk kesekian kalinya. Dia cukup menyakitiku untuk kesekian kalinya juga. Handphoneku berdering terus menerus dan itu karena Panji menghubungiku dan semua inbox ku berisi “maafkan aku sayaang aku dapat jelaskan semua” itu semua dari Panji.
Hingga seminggu aku pun juga belum dapat memaafkan sikap Panji padaku waktu itu. Panji datang kerumahku untuk bertemu denganku dan meminta maaf namun aku tak mau menemuinya. Panji juga sampai semalaman didepan gerbang rumahku menungguku keluar dari rumah sampai hujan pun dia tetap menunggu namun aku tak dapat juga memaafkannya.
Ayah dan Ibuku memintaku untuk kembali ke kampus untuk mengikuti ujian semester 5. akhirnya ku putuskan pagi itu aku berangkat ke kampus. Aku berharap tak bertemu dengan Panji dikampus nanti. Tapi Tuhan tak mengabulkan doaku, malah Tuhan mempertemukanku dengannya. Kita bertemu dikantin. Panji menghampiriku, dia memegang tanganku dan berkata “maafkan aku sayang, sore itu aku dan Ita tak ada hubungan apa-apa, kita cuma ngobrol biasa. Sayang jangan salah paham dulu aku bisa jelas detail lagi”. Namun aku tak pedulikannya, aku berdiri dan pergi meninggalkannnya. Panji terus mengejarku dan memanggil namaku serta mengucak kata “maafkan aku sayang”. Aku langsung menuju tempat dimana aku parkir mobil dan tempat parkiran ada diseberang jalan. Saat aku sudah sampai diseberang jalan aku mendengar suara yang memanggil namaku “Putriiiiiiiiiiiiii” *braaaaaaak*
Aku pun menoleh ke belakang dan ternyata Panji tertabrak bus angkutan umum yg sedang melaju kencang dari arah timur. Aku langsung lari dan memeluk Panji yang penuh lumuran darah dari kepala dan tangannya.
“Puu….triiiii…ma..af..kan..a..kkuu…ak..uu…sa.aat..ii..ttuu..dee.ngg..ann..Itaa..ha..nyaa..beer..binc…ang tenta..aangmu…aku..ha…nya…ingin ka..mu..ya..ng..ter..ak..hir…un,,tukku…akku saa..ngaa..at..men..cin..ta..i..mu..maa..uukaah..ka..muu..me..ni..kah..de..ngan..ku?” dan saat itu juga setelah Panji berkata itu nafas Panji terhenti untuk selamanya  “paaaaanjiiiiiiiiiiiiii ! jangaaaan tinggalin aku ”
Panji menghembuskan nafas terakhirnya dipelukanku, disaat terakhir dia berkata bahwa aku yang terakhir untuknya, disaat dia mengatakan mencintaiku dan mengajaku untuk menikah dengannya. Dia mengatakan semuanya disaat meregang nyawa disaat menahan sakit dari benturan keras, ketika darahnya mengalir begitu deras membasahi aspal jalanan. Rasanya ingin sekali menemani Panji didalam tanah sana, menemaninya dalam kegelapan, kesunyian, kedinginan. Aku tidak bisa berhenti menangis, menyesali perbuatanku, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Satu minggu setelah Panji meninggal, aku masih menangis, membayangkan semua kenangan indah bersama Panji yang tidak akan pernah terulang lagi. Senyumannya, tatapannya, nasihatnya yang tak dapt hilang dari fikiranku.
"Putri, ini ada titipan dari Ibunya Panji. Kamu jangan melamun terus, kamu harus bangkit! Kasihan Panji kalau kamu kayak gini terus dia gak tenang di alam sana. Ibu yakin km bisa bangkit sayang” 
"Ini salah aku Bu. Aku butuh waktu untuk menghilangkan ini semua"
Kubuka bingkisan dari Ibunya Panji tadi, didalamnya ada kotak kecil berwarna merah, mawar merah yang telah layu dan amplop berwarna merah. Didalam kotak merah itu terdapat sepasang cincin. Aku pun menangis dan membuka amplop itu yang bertuliskan...
-->  Dear Putri.
Putri sayang, maafin aku, aku janji gak akan nyakitin kamu lagi, aku sangat mencintaimu, semua yang udah aku lakuin selama ini buat ngeyakinin kalo cuma kamu yang terbaik buat aku, cuma kamu yang aku cinta. Ku harap, kamu mau nemenin aku sampai aku menutup mata, sampai aku menghembuskan nafas terakhirku. Dan cincin ini akan menjadi cincin pernikahan kita. Aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin berpisah denganmu Putri. Love You || Panji
Lagi-lagi air mataku mengalir semakin deras membasahi pipiku, Ibu memelukku erat dan mengusapkan air mataku yang jatuh begitu deras. “Ibu aku nitip cincin ini ya Bu, simpan baik-baik ya Bu”. Ibu dan aku sama-sama berpelukan dan kita nangis bersama –TAMAT-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

First Love

(mencari) Rias Pengantin di Semarang

Cintaa... I need You