Terimakasih, Cinta
Tepat pukul 00:00 WIB, handphoneku berdering tanpa henti. Aku sontak bangun dari tidurku dan mengangkat handphone mungilku. Ternyata ada seseorang menelphoneku. Ku angkat telphone itu dengan keadaan setengah sadar.
"Hallo?siapa ya?"
"Selamat ulang tahun Linkus:D ciyee tambah tua o. Ojo tambah mbeling ya, nurut sama mamapapa tambah mancung wes hidungnya"
"hloh ini siapa?" sambil wajah heran. Seperti aku pernah mendengar suara itu. Ya itu adalah kamu, orang yang selama 2bulan yang lalu pergi menghilang dari hadapanku tanpa kabar apapun.
"Aldino bukan?" tanyaku heran.
"Iya sayang *ups" jawabnya dengan ketawa yang khas.
"Haha makasih Al makasih. kadonya ditunggu:D"
"Iya sipp"
Mungkin aku sedang bermimpi. Tidak, ini tidak mimpi. Ini nyata sungguh nyata.
Tuhan, benarkah itu dia? Apakah ini kado teristimewaku?. Entah harus apa yang aku lakukan. Tangis air mata yang ku lakukan saat itu. Aku mengingat kebaikanmu lalu mengingat semua kejahatanmu. Sungguh sakit rasanya. Tiba-tiba kau muncul tepat saat ulang tahunku.
Pagi buta itu aku tak dapat melanjutkan tidur indahku. Aku hanya terbayang wajahmu yang benar-benar ku benci. Tapi rasa benci itu seketika hilang. Entah mengapa. Hanya satu pertanyaanku pagi itu, kemana kekasihku?mengapa dia tak pedulikanku?kenapa harus orang yang menyakiti ku yang mempedulikanku?
Tuhan, inikah rasanya cinta sejati? cinta dimana membalikkan seluruh otakku sehingga aku benar-benar menjadi orang munafik sedunia?
Kita banyak bercerita tentang masalalu, tentang sekolah dan banyak hal. Pagi itu gak seperti pagi yang biasanya. Aku merasa seperti bayi yang baru melihat dunia seluas ini. Aku tertawa lepas saat membaca isi pesan-pesan singkat dari Aldino. "Kamu kenapa sih mbak?ketawa-ketawa sendiri?" ucap mamaku. "Haha gakpapa ma. Biasa urusan anak muda." jelasku dengan tersenyum.
"siapa yang orang pertama yang memberi ucapan?"
"emm Aldino ma"
"Ciyee...balikan mbak?"
"haha enggak ma" jawabku malu.
"kalau iyapun gakpapa. Sekarang kamu bukan anak kecil lagi. Pasti taulah mana yang baik dan lawannya" jelas mama dengan kebijaksanaannya.
Aku pun mulai berfikir untuk kesekian kalinya. Trauma mendalam pasti. Kekasihku? bagaimana dengan dia? Apakah aku hanya mempermainkan hatinya?. Tuhan maafkan aku.
Suasana menjadi hening seperti akan menghadapi soal ujian nasional. Yang semula rame seperti pasar eits berubah clingg menjadi seperti rumah tanpa penghuni.
"ini aku serius tanggapannya juga serius ya, pliss" katanya dengan wajah tegang
"Iyaya aku serius. Ngomong apaan sih?"
"Jujur aku masih sayang sama kamu, mungkin ini terkesan konyol. Tapi mungkin susah jaadi orang munafik lama-lama."
"Apaan sih apa?"
"To the point aja deh, mau gak balik sama aku lagi?" katanya sambil memegang tanganku.
"enggak!" jawabku tegas
"Serius plis serius"
"Ya allah aku serius ini"
Suasana menjadi lebih hening. mungkin 5x lipatnya dari semula. Aku bingung harus merespon gimana lagi.Perasaanku campur aduk. Takut ini itu.
"Ayo jawab mau gak?" katanya sambil menatapku penuh harapan
"enggak!"
"kenapa enggak?"
"pertanyaanmu dirubah dong, emang ada yang nawarin something pakai kata 'gak'?"
"Iya deh, oke tak rubah. Mau yaa balik sama aku lagi? aku janji untuk terakhir kalinya aku gak akan menyakitimu lagi"
"sungguh?"
"Iya sayang"
Tuhan.. aku harus jawab apa. Aku masih merasa takut. Tuhan tolong aku. Dengan bismillah aku menjawab
"Oke aku mau. Ini kesempatan terakhirmu plis jangan sakitin aku lgi" kataku dengan penuh keraguaan.
"iya sayang aku janji:D. Nah nih kado buat kamu"
"ciyeee...thankyou very much myara:*"
"Iya sama-sama my linkus:*"
Tuhan..inikah kado teristimewaku? Inikah dia orang yang selama ini yang aku cari?. Bukan dari harta atau penampilannya, tapi aku menilai dia dari menjagaku, mempedulikanku, serta membimbingku. Iya dialah orang yang selama ini aku dambakan. Meskipun dia telah menyakitiku tapi aku dapat memaafkannya.
Dalam doaku :"Tuhan jangan jadikan ini menjadi bumerang untukku lagi. Aku takut yakin. Tapi aku juga gak bisa bohong. Harapanku hanyalah jadikan kami pasangan yang benar-benar saling menjaga."#amiin
Untukmu orang terkasih, Aldino Rassis Alfattah :*
"Hallo?siapa ya?"
"Selamat ulang tahun Linkus:D ciyee tambah tua o. Ojo tambah mbeling ya, nurut sama mamapapa tambah mancung wes hidungnya"
"hloh ini siapa?" sambil wajah heran. Seperti aku pernah mendengar suara itu. Ya itu adalah kamu, orang yang selama 2bulan yang lalu pergi menghilang dari hadapanku tanpa kabar apapun.
"Aldino bukan?" tanyaku heran.
"Iya sayang *ups" jawabnya dengan ketawa yang khas.
"Haha makasih Al makasih. kadonya ditunggu:D"
"Iya sipp"
Mungkin aku sedang bermimpi. Tidak, ini tidak mimpi. Ini nyata sungguh nyata.
Tuhan, benarkah itu dia? Apakah ini kado teristimewaku?. Entah harus apa yang aku lakukan. Tangis air mata yang ku lakukan saat itu. Aku mengingat kebaikanmu lalu mengingat semua kejahatanmu. Sungguh sakit rasanya. Tiba-tiba kau muncul tepat saat ulang tahunku.
Pagi buta itu aku tak dapat melanjutkan tidur indahku. Aku hanya terbayang wajahmu yang benar-benar ku benci. Tapi rasa benci itu seketika hilang. Entah mengapa. Hanya satu pertanyaanku pagi itu, kemana kekasihku?mengapa dia tak pedulikanku?kenapa harus orang yang menyakiti ku yang mempedulikanku?
Tuhan, inikah rasanya cinta sejati? cinta dimana membalikkan seluruh otakku sehingga aku benar-benar menjadi orang munafik sedunia?
***
Pagi harinya, ku berharap kekasihku menghubungiku. Tapi semua diluar dugaan. Bukan kekasihku yang mengirim pesan singkat berisi "Selamat Pagi sayang" tapi pesan singkat itu dikirim oleh seorang yang menelfonku pagi buta tadi, Aldino. Ya Aldino.Kita banyak bercerita tentang masalalu, tentang sekolah dan banyak hal. Pagi itu gak seperti pagi yang biasanya. Aku merasa seperti bayi yang baru melihat dunia seluas ini. Aku tertawa lepas saat membaca isi pesan-pesan singkat dari Aldino. "Kamu kenapa sih mbak?ketawa-ketawa sendiri?" ucap mamaku. "Haha gakpapa ma. Biasa urusan anak muda." jelasku dengan tersenyum.
"siapa yang orang pertama yang memberi ucapan?"
"emm Aldino ma"
"Ciyee...balikan mbak?"
"haha enggak ma" jawabku malu.
"kalau iyapun gakpapa. Sekarang kamu bukan anak kecil lagi. Pasti taulah mana yang baik dan lawannya" jelas mama dengan kebijaksanaannya.
Aku pun mulai berfikir untuk kesekian kalinya. Trauma mendalam pasti. Kekasihku? bagaimana dengan dia? Apakah aku hanya mempermainkan hatinya?. Tuhan maafkan aku.
#Singkat cerita#
Beberapa hari kemudian, Aldino main kerumah. Itupun disengaja. Kami mulai bercerita lagi, bercanda bersama lagi seperti seorang kekasih yang gak pernah bertemu 5tahun. Tiba-tiba Aldino memotong pembicaraan. "Aku mau ngomong nih" katanya. "ngomong tinggal ngomong kok. Mau ngomong apa?hm?" jawabku santai.Suasana menjadi hening seperti akan menghadapi soal ujian nasional. Yang semula rame seperti pasar eits berubah clingg menjadi seperti rumah tanpa penghuni.
"ini aku serius tanggapannya juga serius ya, pliss" katanya dengan wajah tegang
"Iyaya aku serius. Ngomong apaan sih?"
"Jujur aku masih sayang sama kamu, mungkin ini terkesan konyol. Tapi mungkin susah jaadi orang munafik lama-lama."
"Apaan sih apa?"
"To the point aja deh, mau gak balik sama aku lagi?" katanya sambil memegang tanganku.
"enggak!" jawabku tegas
"Serius plis serius"
"Ya allah aku serius ini"
Suasana menjadi lebih hening. mungkin 5x lipatnya dari semula. Aku bingung harus merespon gimana lagi.Perasaanku campur aduk. Takut ini itu.
"Ayo jawab mau gak?" katanya sambil menatapku penuh harapan
"enggak!"
"kenapa enggak?"
"pertanyaanmu dirubah dong, emang ada yang nawarin something pakai kata 'gak'?"
"Iya deh, oke tak rubah. Mau yaa balik sama aku lagi? aku janji untuk terakhir kalinya aku gak akan menyakitimu lagi"
"sungguh?"
"Iya sayang"
Tuhan.. aku harus jawab apa. Aku masih merasa takut. Tuhan tolong aku. Dengan bismillah aku menjawab
"Oke aku mau. Ini kesempatan terakhirmu plis jangan sakitin aku lgi" kataku dengan penuh keraguaan.
"iya sayang aku janji:D. Nah nih kado buat kamu"
"ciyeee...thankyou very much myara:*"
"Iya sama-sama my linkus:*"
Tuhan..inikah kado teristimewaku? Inikah dia orang yang selama ini yang aku cari?. Bukan dari harta atau penampilannya, tapi aku menilai dia dari menjagaku, mempedulikanku, serta membimbingku. Iya dialah orang yang selama ini aku dambakan. Meskipun dia telah menyakitiku tapi aku dapat memaafkannya.
Dalam doaku :"Tuhan jangan jadikan ini menjadi bumerang untukku lagi. Aku takut yakin. Tapi aku juga gak bisa bohong. Harapanku hanyalah jadikan kami pasangan yang benar-benar saling menjaga."#amiin
Untukmu orang terkasih, Aldino Rassis Alfattah :*
Komentar
Posting Komentar