First and Last
Satu dari beberapa pria yang ada, aku
merasakan kekuatan magic setiap aku berada disekelilingnya. Bukan hanya
disamping melainkan disekelilingnya. Entahlah. Mungkin aku benar-benar
merasakan cinta sesungguhnya. Bisa saja disebut cinta pada pandangan pertama.
Disetiap lamunanku selalu terselip wajah
manis dengan lesung pipinya. Hitam, tinggi, manis, lesung pipi, jam tangan di
tangan kiri, gigi gingsul, dan berpenampilan sederhana. Itulah spesifik pria
yang membuatku benar-benar menganguminya.
Tuhan…sungguh ini nyata. Sungguh ini terasa
aneh. Aku mengaguminya sejak aku memulai belajar mengenal huruf, mengenal
angka. Lebih tepatnya sewaktu duduk dibangku kelas 3 Sekolah Dasar.
Cinta pada seusia itu dapat dikategorikan
sebagai cinta monyet. Namun pada saat itu aku hanya mengaguminya bukan
mencintainya. Rasanya sewaktu sakit, diantara teman-teman yang menjengukku, dia
ada disitu. Dan dia begitu perhatian.
Lama kelamaan aku mulai merasakan hal yang
lebih dari mengagumi. Nah ini baru rasa cinta. Namun, rasa cintaku hanya dapat
ku curahkan pada setiap doaku. Jarak yang menjadi penghalang. Demi cita-cita
kita berpisah.
Setiap doaku terselip namanya. Setiap
pejaman mataku menjelang tidur, aku membayangkan wajahnya. Selalu merasa
berbeda jika sebuah curahanmu muncul dihadapanku melalui jejaring social.
Sungguh keajaiban Tuhan. Kami dipertemukan
lagi. Pertemuan malam itu membuat semua otakku tak singkron dengan mulut. Aku
tak dapat berkata apa-apa. Senyumnya…tatapan matanya…ohh…mempesona.
Seiring berjalannya waktu, lagi-lagi
keajaiban Tuhan. Tuhan mempersatukan kita dalam suatu ikatan cinta. Dan
akhirnya kita hidup bersama selamanya sampai akhir.
Kamu, penyemangatku.
My first and last love.
Komentar
Posting Komentar